Get Adobe Flash player
JADWAL SHALAT  Subuh 04:35 WIB | Dzuhur 11:47 WIB | Ashar 14:59 WIB | Maghrib 17:49 WIB | Isya 18:54 WIB

Pendidikan & Iptek

Empat Sebab Munculnya Tawuran Antar Pelajar

Pendidikan moral dan agama begitu sedikit dibanding pelajaran lain. Itupun prosesnya tidak mengarah ke pembentukan karakter tetapi sekedar menjejalkan pengetahuan nilai

Jumat, 28 September 2012 11:30 almak | red|
Empat Sebab Munculnya Tawuran Antar Pelajar
Tawuran pelajar
Jakarta,POL

MARAKNYA tawuran antar pelajar akhir-akhir ini hingga menelan korban nyawa, di antaranya disebabkan kurangnya keteladanan para tokoh masyarakat yang tak memberi contoh yang baik bagi para pelajar dan kurangnya ruang tempat berkreasi bagi remaja.

Anggota Komisi Pendidikan DPR (Komisi X), Hanif Dhakiri mengungkapkan, ada empat penyebab munculnya aksi tawuran di kalangan remaja.

Pertama, Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengatakan bahwa saat ini, makin sedikitnya keteladanan sosial dalam masyarakat Indonesia terutama bagi para tokoh dan elit masyarakat.

"Misalnya, acapkali sadar tak sadar memberikan contoh-contoh tak baik dalam kehidupan sehari-hari, seperti banyaknya kasus kekerasan dalam masyarakat, intoleransi sosial yang makin tinggi, dan lain-lain," ujarnya, Jumat (28/09/2012).

Kedua, menurutnya, menggejalanya bullying (tindak kekerasan) di sekolah, baik yang dilakukan guru kepada siswa maupun sesama siswa pada saat penataran atau kegiatan tertentu, menjadi pemicu timbulnya kekerasan melalui tawuran.

"Bullying juga cukup marak di masyarakat. Sementara pemerintah, dalam hal ini Depdikbud, belum melakukan penanganan sercara optimal masalah bullying ini, sehingga memicu munculnya lingkaran setan kekerasan, di mana kekerasan yang satu melahirkan kekerasan yang lain dan seterusnya," paparnya.

Ketiga, lanjut Hanif, lemahnya penanaman nilai dan pendidikan karakter di sekolah, serta tak sampainya proses pembentukan karakter pada siswa di sekolah.

"Pendidikan moral dan agama begitu sedikit dibanding pelajaran lain. Itupun prosesnya tidak mengarah ke pembentukan karakter tetapi sekedar menjejalkan pengetahuan nilai," jelasnya.

Keempat, katanya, terbatasnya ruang bagi kalangan remaja untuk berkreasi dan menyalurkan hobinya sebagai anak muda.

"Ruang kreatifitas itu begitu terbatas dan kalah dengan hiruk pikuk bisnis dan ihwal lain yang serba uang. Termasuk di dalamnya adalah ruang publik bernama televisi yang cenderung banyak menjejali remaja dan publik pada umumnya dengan nilai-nilai materialisme, hedonisme, konsumerisme maupun kekerasan," tandasnya.

Dibaca 1755 kali

Tinggalkan komentar....
Pendidikan & Iptek
Mantap, Umur 21 Sudah Raih Gelar Doktor

Mantap, Umur 21 Sudah Raih Gelar Doktor

Ketika interview dalam seleksi program beasiswa Erasmus Mundus mereka kaget umur 21 sudah ke jenjang S-3.